[DRAFT] Tipologi Kerentanan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian: Provinsi Nusa Tenggara Timur

1 Pendahuluan

Penghidupan berbasis pertanian kini makin rentan terhadap perubahan iklim, tetapi informasi mengenai potensi resiko dan kebutuhan adaptasi mereka masih sangat terbatas. Draft dokumen ini disusun untuk mengisi kekosongan ini dengan mengevaluasi berbagai jenis kerentanan yang mempengaruhi mata pencaharian berbasis pertanian di tingkat provinsi. Kami melakukan penilaian kerentanan untuk mengidentifikasi risiko serta penyebabnya, dan potensi adaptasi, dengan fokus pada peningkatan taraf hidup, keberlanjutan produksi komoditas-komoditas kunci, dan pengelolaan lahan secara menyeluruh.

Mengingat tingginya keanekaragaman lanskap di Provinsi Nusa Tenggara Timur, kami memfokuskan perhatian pada kecamatan-kecamatan dengan fitur biofisik dan sosial-ekonomi yang mirip. Ini membantu kami mempermudah tugas dalam mengidentifikasi risiko yang identik antar kecamatan. Kami mendefinisikan area-area homogen ini, atau ‘tipologi,’ dengan menggunakan pengelompokan K-means. Pengelompokan ini didasarkan pada komposit dari indikator biofisik dan sosial-ekonomi. Untuk mempermudah proses pengelompokan, kami menggunakan analisis PCA untuk menyederhanakan dimensi data.

  • Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi ‘tipologi’ kecamatan-kecamatan, yang memiliki karakter sosial-ekonomi dan lingkungan yang mirip di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan menggunakan pengelompokan K-means pada data yang disederhanakan oleh PCA.

  • Tipologi tersebut kemudian digunakan untuk mendeskripsikan konteks kerentanan penghidupan berbasis pertanian akibat perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan potensi intervensi untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

2 Deskripsi wilayah & Metodologi

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah tenggara Indonesia yang berbatasan dengan Laut Flores di sebelah Utara, Samudera Hindia di sebelah Selatan, Timor Leste di sebelah timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah Barat. Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki luas wilayah sebesar 46,452.38 kilometer persegi. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan yang terdiri atas 1.192 pulau yang sebagian besar pulau tersebut tidak berpenghuni. Lima pulau besar di NTT dikenal dengan nama ‘Flobamorata’ yang terdiri atas Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata.

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan rumah bagi sekitar 5,466,290 penduduk berdasarkan data tahun 2022. Kabupaten ini memiliki tingkat ketimpangan ekonomi yang sedang atau moderat, seperti yang tercermin dalam rasio Gini senilai 0.34 pada semester 2 tahun 2022. NTT mencatatkan angka 65,90 untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di tahun yang sama.

Produk Domestik Bruto (PDB, Atas Dasar Harga Berlaku) untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah 118.72 triliun Rupiah Indonesia pada tahun 2022. Hal ini menempatkan provinsi NTT sebagai Provinsi urutan ke 27 secara nasional. PDB Provinsi NTT pun masih berada di bawah rata-rata PDB nasional, dimana rata-rata PDB Provinsi yaitu 563.13 triliun rupiah.

Pada tahun 2022, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Timur memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, dengan kontribusi sebesar 29% terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian provinsi, dengan diperkirakan 818,853 petani beroperasi di Nusa Tenggara Timur, menurut Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah petani dengan luas lahan garapan <0.5 ha menjadi yang paling dominan dengan jumlah 351,220 rumah tangga. Padi, jagung, dan ubi kayu menjadi tanaman pangan yang paling populer untuk diusahakan oleh petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pisang, mangga, jeruk, bawang merah dan cabai rawit menjadi komoditas hortikultura strategis di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Komoditas perkebunan seperti kelapa, jambu mete, kopi dan kakao menjadi yang paling populer untuk dibudidayakan oleh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam sektor perikanan, masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur lebih memilih perikanan tangkap dibandingkan dengan perikanan budidaya.

Unit analisis terkecil: Kecamatan

Fitur Sumber Satuan
1 Jarak ke perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
2 Jarak ke jalan BIG Meter
3 Jarak ke konsesi Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan (2017 kepohutan) Meter
4 Jarak ke konsesi perhutanan sosial KLHK Meter
5 Jarak ke sungai BIG Meter
6 Jarak ke area bekas terbakar BIG Meter
7 Jarak ke badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
8 Persentase area pertanian Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
9 Persentase area perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
10 Persentase area berhutan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
11 Persentase area semak belukar Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
12 Persentase badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
13 Persentase savanna Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
14 Jarak ke deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
15 Luas area deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Hektar
16 Persentase area yang bisa ditanami Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
17 Potensi erosi RUSLE t/ha/tahun
18 Indeks Bahaya Banjir RBI BNPB Indeks
19 Indeks Bahaya Longsor RBI BNPB Indeks
20 Indeks Bahaya Kekeringan RBI BNPB Indeks
21 NDWI 2020 Landsat 8 Indeks
22 NDMI 2020 Landsat 8 Indeks
23 Indeks kekeringan WORLDCLIM 2.1 Indeks
24 Rata-rata suhu tahunan WORLDCLIM 2.1 °C
25 Rata-rata curah hujan tahunan WORLDCLIM 2.1 mm/tahun
26 Rasio elektrifikasi Potensi desa BPS 2019 Rasio
27 Total sekolah tinggi (SMA sederajat) Potensi desa BPS 2019 Unit
28 Total Perguruan Tinggi Potensi desa BPS 2019 Unit
29 Total Rumah Sakit Potensi desa BPS 2019 Unit
30 Total fasilitas kesehatan Potensi desa BPS 2019 Unit
31 Total pasar Potensi desa BPS 2019 Unit
32 Total minimarket Potensi desa BPS 2019 Unit
33 Kejadian banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
34 Korban banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Korban jiwa/tahun
35 Kejadian banjir bandang 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
36 Kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
37 Jumlah sistem peringatan dini bencana alam Potensi desa BPS 2019 Unit
38 Jumlah embung Potensi desa BPS 2019 Unit
39 Jumlah pasar desa Potensi desa BPS 2019 Unit
40 Penderita gizi buruk 2018 Potensi desa BPS 2019 Individu
41 Luas Daerah Irigasi KemenPUPR Hektar
42 Jumlah bulan basah WORLDCLIM 2.1 Bulan
43 Elevasi DEMNAS mdpl
44 Kelerengan DEMNAS Derajat
45 Luas area lindung KLHK Hektar
46 Persentase area lindung KLHK %
47 Rasio kesejahteraan TNP2K Rasio
48 Rasio luas kecamatan terhadap luas daratan Potensi desa BPS 2019 Rasio
49 Jangkauan bandara Kemenhub Meter
50 Jarak ke pelabuhan Kemenhub Meter
51 Rasio KK terhadap luas area non-lindung Potensi desa BPS 2019 Rasio

Intisari Analisis Komponen Utama (PCA)
Tingkat Kepentingan Komponen
Komponen Standar Deviasi Proporsi Variansi Proporsi Kumulatif
PC1 2.6923 0.1421 0.1421
PC2 2.3751 0.1106 0.2527
PC3 2.0485 0.0823 0.3350
PC4 1.9016 0.0709 0.4059
PC5 1.5425 0.0467 0.4526
PC6 1.5362 0.0463 0.4989
PC7 1.3683 0.0367 0.5356
PC8 1.3381 0.0351 0.5707
PC9 1.2934 0.0328 0.6035
PC10 1.2103 0.0287 0.6322
PC11 1.1289 0.0250 0.6572
PC12 1.1075 0.0240 0.6812

2.0.1 Interpretasi Komponen Utama (PCs)

PC1: Predominan Bahaya Longsor, Tutupan Hutan, Topografi dan Demografi (14.213%)

PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Ketersediaan Air Permukaan (11.061%)

PC3: Predominan Aksesibilitas terhadap air dan luas Kecamatan (8.228%)

PC4: Predominan karakteristik iklim(7.091%)

PC5: Predominan Aktivitas perubahan tutupan hutan dan fasilitas publik (4.666%)

2.0.2 Diagram pencar 3D tipologi kecamatan-kecamatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur

  • Sumbu x,y dan z dari diagram pencar merupakan tiga komponen utama teratas dari hasil PCA.
    • PC1: Predominan Bahaya Longsor, Tutupan Hutan, Topografi dan Demografi
    • PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Ketersediaan Air Permukaan
    • PC3: Predominan Aksesibilitas terhadap air dan luas Kecamatan
  • Tiap-titiknya mewakili sebuah kecamatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur
  • Titik yang berwarna sama berarti tergolong dalam tipologi yang sama.

2.0.3 Cluster Validation

Titik ‘siku’ dari sebuah elbow plot adalah titik di mana menambahkan penambahan jumlah kluster tidak banyak memberikan tambahan informasi baru.

Plot siluet yang mendekati +1 menunjukkan pengelompokan yang baik, sementara nilai yang mendekati 0 atau nilai negatif menunjukkan pengelompokan yang tumpang tindih atau tidak baik.

3 Hasil & Interpretasi Sementara (Draft)

Tipologi Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur

3.0.0.1 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.0.1.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Kepadatan rumah tangga yang tinggi menandakan aktivitas ekonomi niaga dan jasa dapat memberikan stabilitas ekonomi karena tidak terlalu tergantung pada satu sektor.

  • Angka penderita gizi buruk yang rendah dan tingkat kemiskinan paling rendah mencerminkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

  • Rasio elektrifikasi tinggi menunjukkan akses yang baik ke infrastruktur dasar dan mendukung aktivitas ekonomi.

  • Fasilitas kesehatan, pasar, sekolah tinggi, dan rumah sakit yang relatif banyak menandakan infrastruktur yang baik.

  • Aksesibilitas tinggi ke transportasi udara dan pelabuhan mendukung distribusi hasil niaga dan jasa


3.0.0.1.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Tidak punya lahan untuk memproduksi pangan secara mandiri, karena area yang dapat digunakan untuk pertanian sangat sedikit.

  • Area kering dan panas: Daerah dengan level kekeringan lahan tinggi, hal ini ditambah dengan rendahnya curah hujan rata-rata tahunan.

  • Rendahnya persentase area lindung dan tutupan hijau, menunjukkan ketergantungan atas penyediaan jasa lingkungan air bersih dari tipologi sekitarnya.


3.0.0.1.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Pembangunan infrastruktur niaga: Memiliki akses yang baik, terdapat peluang untuk meningkatkan infrastruktur niaga, pengembangan pasar yang mendukung pertumbuhan bisnis.

  • Diversifikasi usaha: Kondisi topografi yang mendukung, aksesibilitas tinggi dan infrastruktur yang baik memberikan peluang untuk diversifikasi usaha di sektor niaga dan jasa, seperti pengembangan pusat perbelanjaan, hotel, atau pusat hiburan.


3.0.0.1.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Ketergantungan bahan baku pertanian: Bergantung pada suplai pangan dari luar cluster, sehingga tidak dapat menjaga stok kebutuhan pangan penduduk sekaligus kestabilan harga. Hal ini menjadi ancaman serius karena cluster 1 memiliki jumlah penduduk paling tinggi dibandingkan dengan cluster lainnya.

  • Rentan cuaca ekstrem: Memiliki suhu tinggi, kekeringan lahan dan tanpa area penyangga perlindungan lingkungan memberikan ancaman kesehatan penduduk, bencana alam dan kelangsungan operasional sektor niaga dan jasa.

  • Kesenjangan ekonomi lebar: Masih terdapat cukup besar penduduk dengan kesejahteraan ekonomi rendah saat sebagian kecil penduduk memiliki kesejahteraan sangat tinggi. Ketidak merataan ekonomi dapat menjadi hambatan bagi perkembangan ekonomi dan usaha.

3.0.0.2 Karakteristik Umum

Aspek Demografi dan Ekonomi

  • Kepadatan rumah tangga yang paling tinggi, yaitu 5.89 rumah tangga/hektar (SD = 6.08), di mana lahan dibagi untuk menampung jumlah penduduk yang lebih besar dalam area yang lebih terbatas dibanding di klaster lainnya.
  • Angka penderita gizi buruk yang relatif rendah dibandingkan dengan beberapa cluster lainnya.
  • Rasio elektrifikasi tinggi (97.6%), menunjukkan akses yang baik ke listrik sehingga mendukung kegiatan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup penduduk.
  • Tingkat kemiskinan di cluster satu paling rendah dibandingkan dengan beberapa cluster lainnya 21.64 % (8.48). Ini dapat menggambarkan bahwa perekonomian dari niaga dan jasa memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi di wilayah ini. Namun karena klaster ini padat penduduk, secara jumlah, jumlah rumah tangga yang tergolong rentan secara ekonomi berada pada peringkat 3, rata-rata 2048 rumah tangga.
  • Memiliki total fasilitas kesehatan, pasar, sekolah tinggi, dan jumlah rumah sakit yang relatif tinggi. Ini menandakan adanya infrastruktur yang baik untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Aspek iklim dan lingkungan

  • Indeks ariditas paling tinggi diantara cluster lainnya (0.77 dengan SD 0.06), menunjukkan kondisi terkering, sehingga memerlukan manajemen air yang baik. Risiko kekeringan yang tinggi juga tercermin dari Indeks Bahaya Kekeringan sebesar 0.72, menempatkan Cluster 1 di peringkat kedua dalam hal kerentanan terhadap kekeringan. Ditambah dengan rata-rata bulan basah yang hanya sekitar 2.79 bulan, ini mengindikasikan bahwa Cluster 1 mengalami periode curah hujan yang lebih singkat dibandingkan kluster lainnya.
  • Memiliki curah hujan rata-rata relatif rendah (1315 mm/tahun), sehingga simpanan air pada musim hujan akan sedikit, berpotensi kering pada musim kemarau. Meskipun begitu, bahaya banjir dapat mengintai di musim hujan, ditunjuukan melalui indeks bahaya banjir menunjukkan nilai 0.09, tertinggi kedua dibandingkan cluster lainnya.
  • Nilai suhu rata-rata kedua tertinggi dari seluruh cluster, dengan rata-rata 25.51°C (standar deviasi 1.27°C). Hal ini mengindikasikan kondisi iklim yang daratan rendah yang hangat. Cluster ini diperkirakan akan mengalami peningkatan suhu sebesar 1.35°C pada dengan deviasi 0.07°C, menempatkannya di peringkat ketiga di antara enam kluster.
  • Risiko erosi paling rendah (447.46) dibandingkan dengan cluster lainnya. Karakteristik area yang cenderung datar relatif lebih aman dari potensi kerusakan tanah akibat erosi.
  • Tutupan hijau dan vegetasi alami (hutan dan savana) paling rendah dibandingkan klaster lainnya. Namun pada cluster ini tercatat kejadian kebakaran hutan dan lahan tertinggi kedua, meski nilainya tergolong rendah.

Aspek tutupan lahan dan aksesibilitas

  • Persentase lahan yang dapat ditanami paling rendah rendah (8.12%), menunjukkan area yang berfokus pada sektor non-pertanian. Suplai hasil-hasil pertanian akan tergantung dari area di luar cluster.
  • Cluster dengan area kehilangan hutan paling rendah (358 ha), dibandingkan beberapa cluster lainnya. Salah satu faktor karena pada cluster ini area hutan sudah sangat kecil.
  • Jarak dari kegiatan deforestasi paling jauh (3.129 km) dibandingkan dari keseluruhan cluster. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik rendahnya area kehilangan hutan.
  • Persentase area lindung paling rendah (5.55%), karena sedikit memiliki area dengan peruntukkan perlindungan.
  • Jarak ke sungai tidak terlalu jauh (4.6 Km), menunjukkan akses yang cukup baik ke sumber air.
  • Jarak ke jalan cukup baik (1.2 Km), menunjukkan akses yang baik ke infrastruktur jalan.
  • Cluster yang memiliki akses termudah ke transportasi udara. Jarak ke pelabuhan terdekat nomor dua (49,67 Km), menunjukkan ketersediaan infrastruktur untuk logistik dalam distribusi hasil niaga dan jasa yang baik.

3.0.0.3 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.0.3.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Jasa lingkungan tinggi: Memiliki curah hujan yang paling tinggi, dengan suhu paling rendah diantara cluster lain. Tingkat ketersediaan keanekaragaman hayati cukup besar karena berdekatan dengan tutupan hutan.

  • Suhu sejuk: suhu rata-rata yang lebih rendah (23.74°C), nyaman untuk ditinggali dan lebih tahan terhadap prediksi peningkatan suhu + 1.41 °C di 2050.

  • Kondisi elevasi tinggi dan savana memberikan peluang untuk energi terbarukan dari angin (PLTB).

  • Potensi Pariwisata Alam: Tingginya persentase area hutan dan savana (68.02%) memberikan potensi untuk pengembangan pariwisata alam yang dapat mendukung sektor ekowisata jasa lingkungan.


3.0.0.3.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Risiko Perubahan Iklim: curah hujan yang tinggi (2084.31 mm), dipadu dengan elevasi dan kelerengan tinggi meningkatkan risiko banjir, risiko erosi dan tanah longsor.

  • Keterbatasan fasilitas niaga dan jasa: Jumlah minimarket, pasar desa, dan pusat niaga lainnya yang rendah dapat menjadi kendala dalam mendukung distribusi hasil bumi, serta aktivitas niaga dan jasa.

  • Penderita gizi buruk kedua tertinggi, dapat menjadi indikator adanya masalah kesehatan dan kesejahteraan yang perlu diatasi.


3.0.0.3.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Pengembangan pertanian berkelanjutan: Kondisi tanah yang paling cukup air, ada peluang untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan.

  • Pengelolaan hutan yang berkelanjutan: Keterlibatan dengan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dapat mendukung keberlanjutan sumber daya alam.

  • Pengembangan energi terbarukan: Ketersediaan savana yang luas pada elevasi tinggi, memberikan peluang untuk penembangan energi terbarukan terutama PLTB.


3.0.0.3.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Bencana alam erosi dan longsor: Cluster dengan risiko erosi dan longsor tinggi, ditambah curah hujan yang paling tinggi. Pengelolaan yang tidak baik dapat meningkatkan terjadinya bencana alam erosi dan longsong.

  • Ancaman perubahan iklim: Risiko banjir dan pergeseran musim dan kuantitas hujan dapat menjadi ancaman serius terhadap sektor pertanian jika pengelolaan air tidak dikelola dengan baik.

  • Ketergantungan pada pertanian: Tingginya persentase pemilik lahan pertanian kecil dapat menjadi ancaman jika wilayah ini terlalu bergantung pada sektor pertanian yang mungkin rentan terhadap fluktuasi iklim.

3.0.0.4 Karakteristik Umum

3.0.0.4.0.1 Sosio-Demografi:
  • Memiliki persentase penderita gizi buruk kedua tertinggi (15.94%).
  • Rasio elektrifikasi cenderung rendah (68.65%).
  • Jumlah minimarket, pasar desa, dan pusat niaga lainnya cukup rendah.
3.0.0.4.0.2 Aksesibilitas Terhadap Infrastruktur dan Lahan:
  • Persentase lahan yang dapat ditanami tertinggi kedua (42.24%).
  • Infrastruktur irigasi untuk sawah masih sedikit.
  • Jarak ke pelabuhan paling dekat (44446.63), menunjukkan akses yang baik ke jalur distribusi. Deforestasi moderat (969.66 ha).
  • Keterlibatan terhadap kegiatan perkebunan cukup tinggi.
  • Akses terhadap jalan (978.97) dan sungai (3865.4) sangat dekat.
  • Cakupan bandara yang relatif rendah (0.63), menunjukkan keterhubungan yang rendah.
3.0.0.4.0.3 Iklim dan Lingkungan:
  • Memiliki persentase area hutan dan savana yang cukup tinggi (68.02%), menunjukkan potensi keanekaragaman hayati dan lingkungan.
  • Indeks ariditas paling rendah (0.47), menunjukkan kondisi iklim yang mendukung kegiatan pertanian. Indeks bahaya kekeringan rendah (0.66).
  • Elevasi paling tinggi (579.9), menunjukkan variasi topografi.
  • Potensi erosi paling tinggi (1611.66), berjalan selaras dengan kejadian tanah longsor yang paling tinggi (3.28).
  • Cluster dengan jarang ke area terbakar paling jauh (17187.88).
  • Memiliki rata-rata curah hujan paling tinggi (2084.31 mm).
  • Kondisi suhu rata-rata cluster 2 merupakan yang paling rendah (23.74°C). - Persentase lahan pertanian campuran tertinggi kedua (42.24%).

Karakteristik

  1. Klaster dengan luas deforestasi tertinggi dan jarak ke deforestasi terdekat dibandingkan klaster lain

  2. Klaster dengan jarak paling dekat ke perkebunan dan konsesi.

  3. Klaster dengan jarak rata-rata paling jauh dari pelabuhan dan bandara.

  4. Klaster dengan jarak paling dekat dengan sungai, jalan, dan badan air. Memiliki persentase badan air terluas dibandingkan dengan klaster lain

  5. Klaster dengan indeks bahaya kekeringan terkecil

  6. Klaster dengan kejadian banjir paling jarang dan tidak pernah mengalami banjir bandang di tahun 2018-2019

  7. Klaster yang 60% rumah tangganya termasuk dalam 40% kesejahteraan terendah dalam data TNP2K

  8. Klaster dengan penduduk yang belum teraliri listrik tertinggi dibandingkan dengan klaster lain.

  9. Klaster dengan ketersediaan fasilitas kesehatan baik puskesmas dan rumah sakit terendah dibandingkan klaster lain

Tantangan Utama

a.

b.

c.

d.

Karateristik

  1. Indeks kekeringan paling tinggi bersama dengan klaster 1

  2. Tidak memiliki area yang teraliri irigasi berdasarkan data daerah irigasi KemenPUPR

  3. Tidak memiliki tutupan lahan perkebunan, mengakibatkan memiliki jarak paling jauh dari tutupan lahan perkebunan dan konsesi

  4. Jarak paling dekat dengan konsesi perhutanan sosial

  5. Persentase tutupan lahan badan air terendah dan Berada paling jauh dari badan air berdasarkan peta tutupan lahan

  6. Indeks bahaya banjir dan kekeringan paling kecil, namun indeks bahaya longsor tertinggi menurut BNPB

  7. Rata-rata curah hujan terendah dan temperatur kedua tertinggi dibandingkan klaster lain

  8. Rata-rata bulan basah terendah dibandingkan klaster lain

Tantangan Utama

  • a

  • b

  • c

  • d

3.0.0.5 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.0.5.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Tutupan hutan dan savanna yang luas (72% dan 25% dari luas tipologi) berkontribusi pada habitat keanekaragaman hayati

  • Kawasan dengan fungsi lindung atau konservasi yang besar (sekitar 21.83%) menunjukkan upaya konservasi alam.

  • Masih memiliki lahan yang dapat ditanami, aktivitas pertanian didominasi oleh petani kecil dengan sedikit lahan perkebunan.

  • Sebagian besar kecamatan berada atau dekat dari garis pantai, membuka peluang aktivitas ekonomi maritim.


3.0.0.5.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Iklim kering dan akses terhadap sumber air yang terbatas, baik dari segi sungai maupun badan air lainnya.

  • Angka kejadian gizi buruk yang relatif tinggi dan keterbatasan rumah sakit.

  • Tingkat kemiskinan yang tinggi dengan sekitar 49.7% rumah tangga kurang sejahtera, dengan 14.45 % nya belum mendapatkan layanan listrik.

  • Infrastruktur terbatas, ditunjukkan dengan jarak yang jauh dari jalan raya, pelabuhan, dan bandara, serta minimnya fasilitas pendidikan tinggi, artinya setiap individu yang ingin mengenyam pendidikan tinggi perlu merantau ke klaster lain yang memiliki perguruan tinggi.

  • Akses ke jalan darat, pelabuhan, dan bandara tergolong terbatas dibanding tipologi lainnya.

  • Frekuensi kebakaran hutan dan lahan yang tinggi, menyebabkan kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

  • Jarak ke area terbakar pada klaster ini adalah yang terdekat dibanding klaster lainnya, yakni dengan rata-rata 5164.40 m (SD=3639.23). Hal ini berhubungan erat dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2018-2019 yang terjadi sebanyak 2.12 kali dan merupakan yang paling sering di antara klaster lainnya.


3.0.0.5.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Luas tutupan lahan alami yang tinggi berpotensi memberikan jasa lingkungan berupa suplai air yang kontinu dan perlindungan dari bahaya longsor dan erosi.
  • Potensi untuk mengembangkan ekowisata berkat keanekaragaman hayati dan kawasan konservasi.

  • Ketersediaan lahan luas dan cakupan hutan dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hidup melalui perhutanan sosial.

  • Peluang untuk meningkatkan infrastruktur dasar, termasuk jalan dan akses ke air, yang dapat membantu pembangunan ekonomi.

  • Meningkatkan pendidikan dan kesadaran lingkungan di kalangan penduduk lokal untuk konservasi dan pengelolaan sumber daya alam.


3.0.0.5.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Indeks kekeringan yang tinggi dan penurunan curah hujan yang diperkirakan dapat mengancam ketersediaan air untuk pertanian dan penggunaan rumah tangga. Infrastruktur penampung air juga tergiolong terbatas.

  • Potensi erosi tanah dan bahaya longsor yang tinggi akibat topografi dan kondisi tanah.

  • Akses terbatas ke layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dapat menghambat pembangunan sosial dan ekonomi.

3.0.0.6 Karakteristik Umum

3.0.0.6.0.1 Sosio-Demografi:
  • Cluster 5 menonjol dengan kepadatan rumah tangga yang rendah, hanya 21 rumah tangga per km², terendah di antara tipologi lain di Nusa Tenggara Timur.
  • Meskipun demikian, ada sekitar 49.7% rumah tangga yang kurang sejahtera, menempati urutan ke-4 dalam hal kesejahteraan, dengan jumlah rata-rata rumah tangga kurang sejahtera mencapai 1,512, yang merupakan yang kedua tertinggi.
  • Di bidang kesehatan, terdapat sekitar 15.13 kejadian gizi buruk per kecamatan, menempatkan tipologi ini di urutan ke-4.
  • Sekitar 85% rumah tangga telah terlayani oleh jaringan listrik, namun hanya ada hampir 5 fasilitas kesehatan per kecamatan, dengan ketersediaan rumah sakit yang terbatas (peringkat 5).
  • Dari sisi ekonomi, tipologi ini memiliki pasar dan pasar daerah dalam jumlah yang tinggi, tetapi minimarket sangat sedikit, menggambarkan dominasi aktivitas ekonomi informal perdesaan.
  • Pendidikan, khususnya di tingkat tinggi, terbatas dengan rata-rata hanya 2.35 sekolah tinggi per kecamatan dan hampir tidak ada universitas.
3.0.0.6.0.2 Iklim dan Lingkungan:
  • Cluster 5 umumnya terletak di perbukitan dan kaki gunung, dengan elevasi rata-rata 393 mdpl dan suhu rata-rata 24.57°C. Diperkirakan akan terjadi peningkatan suhu sebesar 1.33°C pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.
  • Tipologi ini menghadapi risiko kekeringan yang tinggi, dengan indeks kekeringan 0.69 dan curah hujan tahunan sekitar 1350 mm.
  • Hanya ada sekitar 3 bulan basah dalam setahun, dengan proyeksi penurunan curah hujan sebesar -21.25 mm pada tahun 2050.
  • Meskipun tidak rentan terhadap banjir (indeks bahaya banjir 0.02), daerah ini memiliki risiko longsor yang moderat (0.4) dan potensi erosi tanah yang tinggi.
  • Terjadi kebakaran hutan dan lahan dengan frekuensi tertinggi pada tahun 2018-2019, dengan nilai 2.12 (SD=35.2), dan lokasi kebakaran lahan rata-rata berjarak 5.16 km, yang terdekat dibandingkan klaster lainnya.
  • Bentang alam yang kompleks. Terletak diperbukitan, dengan elevasi rata-rata 393 mdpl, namun juga banyak kecamatannya yang terletak di tepi laut. Suhu rata-rata 24.57 derajat Celcius, dan peningkatan temperatur akibat perubahan iklim +1.33 derajat celcius di 2050.
  • Bahaya kekeringan mengintai tipologi ini. Indeks kekeringan tergolong tinggi, yaitu 0.69. Tipologi ini memperoleh sekitar 1350 mm curah hujan setiap tahunnya, dengan jumlah bulan basah sekitar 3 bulan, dengan indeks kekeringan 0.75. Menandakan tipologi ini tergolong beriklim kering, dan proyeksi iklim di 2050 menunjukkan penurunan curah hujan sebesar -21.25 mm.
  • Karena elevasinya, daerah ini tidak rentan terhadap bahaya banjir. Indeks bahaya banjir menunjukkan rata-rata 0.02.
  • Tipologi ini memiliki bahaya longsor yang moderat (0.4) namun terindikasi memiliki potensi erosi tanah yang tinggi, terutama pada musim hujan. Salah satunya disebabkan oleh kelerengan yang cenderung tinggi di topografi ini.
  • Kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2018-2019 tertinggi dengan nilai 2.12 (SD=35.2). Tipologi ini juga paling dekat dengan lokasi kebakaran lahan, dengan jarak rata-rata 5.16 km.
3.0.0.6.0.3 Aksesibilitas Terhadap Infrastruktur dan Lahan:
  • Cluster 5 memiliki cakupan lahan terluas di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan 36.6% dari luasnya dapat ditanami.
  • Namun, hanya sekitar 36% dari lahan ini yang dikelola oleh petani kecil, dan lahan kelas perkebunan sangat terbatas, rata-rata hanya 0.25 hektar per kecamatan.
  • Kawasan ini juga memiliki proporsi terbesar untuk area lindung atau konservasi, sekitar 21.83% atau 49 km² per kecamatan. Cluster ini menonjol dengan persentase tutupan hutan tertinggi (72%) dan tutupan savanna yang mencapai 25%.
  • Kecamatan di cluster ini rata-rata berjarak 1.6 km dari jalan utama, menunjukkan tantangan dalam perpindahan barang dan masyarakat. Akses ke pelabuhan terbatas dengan rata-rata jarak 59 km, dan akses ke bandara juga terbatas, dengan kapasitas dan frekuensi penerbangan yang rendah.
  • Dari segi akses air, kecamatan di tipologi ini rata-rata berjarak 12 km dari sungai dan 13 km dari badan air lainnya, dengan rata-rata 7.62 embung per kecamatan. Area irigasi rata-rata hampir 50 hektar per kecamatan, menandakan hanya sebagian kecil dari kecamatan yang terlayani irigasi.

3.0.0.7 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.0.7.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Jenis tutupan dan penggunaan lahan pada klaster ini didominasi oleh area pertanian dengan rata-rata 54.32% (SD=30.82), diikuti oleh area berhutan 42.68% (SD=51.6), area semak belukar 21.58% (SD=29.72), area padang rumput 17.21% (SD=18.56), dan area perkebunan 0.94% (SD=2.58).

  • Klaster ini memiliki luas lahan pertanian yang paling besar dibandingkan klaster lainnya dengan rata-rata 54.32% (SD=30.82) dari keseluruhan luas wilayahnya. Selaras dengan tingginya luas lahan pertanian, klaster ini memiliki daerah irigasi sebesar 383.33 ha (SD=805.42), merupakan yang terluas di antara klaster lainnya.

  • Potensi kekeringan pada klaster ini relatif tinggi dengan nilai indeks 0.76 (SD=0.08). Kondisi iklim yang relatif kering tergambarkan dari nilai rata-rata presipitasi sebesar 1328.75 mm (SD=229.61) dan nilai rata-rata suhu sebesar 25.69°C (SD=0.81).

  • Klaster ini memiliki persentase jumlah rumah tangga tertinggi, mencapai 22.5% dari keseluruhan rumah tangga di NTT. Fasilitas perekonomian yang menunjang rumah tangga tersebut terdiri dari pasar desa yang secara rata-rata jumlahnya yang tertinggi di antara klaster lain sebanyak 6.28 unit (SD=13.11), selain itu terdapat pasar berjumlah 2.38 unit (SD=1.69), dan minimarket berjumlah 0.83 unit (SD=2.39).

  • Pada sektor kesehatan, kluster ini memiliki jumlah rata-rata fasilitas kesehatan sebanyak 7.33 unit (SD=3.91) dengan jumlah rata-rata rumah sakit 0.19 unit (SD=0.44). Dengan kondisi tersebut, pada tahun 2018, jumlah individu rata-rata penderita gizi buruk di klaster ini adalah 29.53 individu (SD=37.32).

  • Fasilitas pendidikan di klaster 6 memiliki jumlah yang relatif moderat dibanding dengan klaster lainnya. Jumlah rata-rata sekolah tinggi sebanyak 4.07 unit (SD=3.25) dan perguruan tinggi sebanyak 0.41 unit (SD=0.97).


3.0.0.7.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • xxxx

  • xxxx


3.0.0.7.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • xxxx

  • xxxx


3.0.0.7.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • xxxx
  • xxxx

3.0.0.8 Karakteristik Umum

3.0.0.8.0.1 Sosio-Demografi:
  • xxxx
  • xxxx
3.0.0.8.0.2 Aksesibilitas Terhadap Infrastruktur dan Lahan:
  • Kondisi biofisik klaster ini didominasi oleh kontur landai dan datar. Hal ini tergambarkan oleh nilai rata-rata elevasi 152.72 mdpl (SD=115.72) dan kelerengan 4.95° (SD=2.45).

  • Dalam hal kebencanaan, risiko bencana yang paling tinggi adalah bencana kekeringan dengan nilai indeks sebesar 0.69 (SD=0.1). Di sisi lain, indeks bahaya banjir dan longsor memiliki nilai yang relatif rendah, yakni secara berurutan 0.13 (SD=0.10) dan 0.10 (0.11). Sementara itu, rata-rata jumlah sistem peringatan dini bencana alam yang ada di klaster ini adalah 21.24 unit (SD=8.76).

3.0.0.8.0.3 Iklim dan Lingkungan:
  • xxxx
  • xxxx
  • xxxx

Tabel statistik deskriptif

Karakteristik Sosio-ekonomi dan Lingkungan di Berbagai Kelas Tipologi: Analisis Rata-rata dan Standar Deviasi
Variabel Cluster 1 Sentra Niaga dan Jasa Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5 Cluster 6
annual temperature c change 1.35 (0.07) 1.41 (0.02) 1.42 (0.02) 1.31 (0.12) 1.33 (0.08) 1.35 (0.07)
persentase lahan pertanian 8.12 (9) 42.24 (24.08) 34.9 (18.83) 11.93 (13.49) 36.66 (30.42) 54.32 (30.82)
indeks kekeringan 0.77 (0.06) 0.47 (0.15) 0.74 (0.05) 0.77 (0.05) 0.75 (0.07) 0.76 (0.08)
daerah irigasi ha 39.76 (145.58) 195.28 (537.24) 78.44 (258.95) 0 (0) 47.9 (149.67) 383.33 (805.42)
deforestation area ha 358 (543.32) 969.66 (1562.14) 5032.73 (2680.26) 1291.15 (1604.8) 2482.1 (2577.2) 2325.17 (3149.52)
distance daerah irigasi 12168.85 (10402.91) 26505.52 (27683.97) 17137.81 (13430.24) 21695.13 (10082.84) 20595.43 (15076.06) 22918.53 (30486.92)
jarak ke area terbakar 10204.08 (5797.72) 17187.88 (11929.46) 15902.48 (11016.71) 11918.08 (6953.1) 5164.4 (3639.23) 13440.82 (12871.96)
distance to coast line 6819.21 (7824.04) 13670.94 (6647.35) 14847.71 (8801.76) 3986.37 (3065.79) 6929.51 (5984.89) 6688.34 (6418.51)
jarak ke area deforestasi 3129.91 (2303.01) 2074.41 (1437.2) 485.6 (541.33) 957.56 (1383.54) 1781.55 (2470.64) 2192.64 (2041.47)
jarak ke hutan 1533.24 (893.17) 618.43 (907.05) 943.79 (828.65) 545.56 (1334.28) 619.78 (444.92) 1534.66 (1592.01)
distance to irigation 97109.61 (89273.85) 28587.49 (57271.08) 164101.59 (44165.82) 44127.98 (64290.1) 70196.9 (74274.42) 87351.23 (77778.01)
distance to lake 5151.54 (4160.95) 11612.42 (6288.25) 9514.84 (4453.07) 12402.72 (6858.67) 11155.16 (6176.85) 7381.75 (4488.3)
jarak ke perkebunan 37755.45 (33542.99) 31781.51 (24669.07) 22823.69 (15831.39) 77606.7 (34609.3) 66484.25 (37519.25) 32331.51 (39316.4)
jarak ke konsesi perkebunan 89159.74 (76673.88) 105027.18 (62291.95) 58217.47 (40176.61) 201433.57 (30264.42) 147145.6 (63498.68) 80718.95 (63181.04)
distance to port 49678.86 (40174.84) 44446.63 (22154.5) 80379.61 (28598.67) 60504.35 (34719.05) 58972.07 (37963.94) 71327.78 (44396.08)
jarak ke sungai 4665.26 (4888.75) 3865.4 (2601.74) 1785.93 (820.63) 8381.95 (7028.44) 12096.61 (11971.81) 4982.2 (4424.21)
jarak ke jalan 1290.34 (3277.94) 978.97 (481.77) 987.37 (660.49) 1179.85 (760.17) 1644.32 (693.45) 1260.44 (2332.3)
distance to social forestry concession 18227.29 (11566.02) 18288.5 (9925.95) 13326.99 (8843.31) 10623.59 (7256.16) 12262.78 (8771.83) 47103.34 (44349.72)
distance to water body 5575.94 (6357.01) 7788.91 (5150.86) 4346.8 (4092.34) 15494.03 (8400.86) 13188.93 (9105.95) 5375.17 (4934.92)
elevasi 232.8 (194.8) 579.9 (277.11) 508.56 (231.31) 412.07 (185.68) 393.91 (187.07) 152.72 (115.72)
embung 2.65 (5.22) 8.51 (7.65) 12.76 (8.98) 0.82 (1.39) 7.62 (8.12) 27.05 (26.78)
erosion risk 447.46 (483.27) 1611.66 (741.1) 555.79 (457.59) 554.43 (633.44) 1012.65 (648.43) 666.58 (360.21)
idm 2021 0.22 (0.3) 0.58 (0.09) 0.55 (0.04) 0.57 (0.14) 0.6 (0.05) 0.59 (0.04)
indeks risiko banjir 0.09 (0.05) 0.02 (0.02) 0.03 (0.03) 0 (0.01) 0.02 (0.02) 0.13 (0.1)
indeks bahaya kekeringan 0.72 (0.13) 0.66 (0.06) 0.79 (0.08) 0.64 (0.09) 0.69 (0.12) 0.69 (0.1)
indeks risiko longsor 0.11 (0.13) 0.41 (0.22) 0.39 (0.19) 0.48 (0.19) 0.4 (0.16) 0.1 (0.11)
jumlah sistem peringatan dini bencana alam 15.41 (6.33) 28.91 (9.15) 15.08 (6.65) 18 (8.12) 24.03 (11.92) 21.24 (8.76)
kejadian banjir 2018 2019 2.35 (5.62) 3.08 (7.92) 0.7 (2.13) 0.78 (1.85) 2.81 (4.72) 3.29 (4.88)
kejadian banjir bandang 2018 2019 0.06 (0.24) 0.21 (1.17) 0 (0) 0.05 (0.32) 0.1 (0.62) 0.22 (0.84)
kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018 2019 0.53 (1.46) 0.17 (0.43) 0.13 (0.49) 0.03 (0.16) 2.12 (3.52) 0.36 (1.12)
kejadian kekeringan lahan 2018 2019 0.29 (0.59) 1.3 (2.39) 0.52 (1.66) 0.72 (1.87) 3.08 (5.44) 3.22 (5.44)
kejadian tanah longsor 2018 2019 3.24 (3.8) 3.28 (4.61) 1.79 (3.56) 1.82 (4.37) 1.33 (2.4) 1.26 (3.51)
korban banjir 2018 2019 0 (0) 0.08 (0.55) 0.05 (0.28) 0 (0) 0.1 (0.52) 0.24 (0.73)
korban banjir bandang 2018 2019 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban kebakaran hutan dan lahan 2018 2019 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban kekeringan lahan 2018 2019 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0.32 (2.83) 0.07 (0.53)
korban tanah longsor 2018 2019 0 (0) 0.17 (1.1) 0.03 (0.25) 0.07 (0.47) 0.01 (0.11) 0 (0)
luas ha 4258.88 (5412.64) 15556.87 (9458.36) 11976.14 (7634.75) 5947.52 (3507.03) 21292.19 (13682.36) 18916.41 (15228.69)
mean precipitation 1315.93 (174.79) 2084.31 (372.21) 1428.59 (105.83) 1266.18 (179.46) 1350.27 (205.74) 1328.75 (229.61)
mean temperature 25.51 (1.27) 23.74 (1.41) 24.06 (1.16) 23.95 (2.08) 24.57 (1.05) 25.69 (0.81)
minimarket 7.94 (6.66) 0.66 (2.85) 0.03 (0.18) 0.4 (1.3) 0.12 (0.81) 0.83 (2.39)
ndmi 2020 0.1 (0.09) 0.27 (0.11) 0.18 (0.06) 0.33 (0.07) 0.21 (0.12) 0.09 (0.08)
ndvi 2020 0.53 (0.13) 0.67 (0.27) 0.66 (0.1) 0.66 (0.29) 0.64 (0.22) 0.55 (0.13)
ndwi 2020 -0.54 (0.09) -0.67 (0.2) -0.63 (0.09) -0.73 (0.05) -0.62 (0.19) -0.56 (0.12)
pasar desa 0.06 (0.24) 0.53 (0.95) 1.3 (1.3) 0.42 (0.71) 1.28 (1.34) 6.28 (13.11)
penderita gizi buruk 2018 5.18 (6.29) 15.94 (19.66) 17.67 (19.97) 7.05 (9.73) 15.13 (17.84) 29.53 (37.32)
percent protected area ha 5.55 (12.7) 13.39 (13.69) 13.73 (21.41) 9.24 (14.45) 21.83 (20.15) 13.54 (16.14)
percentage of agricultural small holder 8.12 (9) 42.24 (24.08) 34.9 (18.83) 11.93 (13.49) 36.66 (30.42) 54.32 (30.82)
percentage of forested area 6.5 (12.18) 68.02 (63.67) 40.47 (50.21) 28.49 (20.13) 71.99 (51.39) 42.68 (51.6)
percentage of plantation 0.01 (0.05) 0.05 (0.32) 0.31 (1.24) 0 (0.01) 0.25 (1.43) 0.94 (2.58)
percentage of savanna 10.97 (20.38) 9.85 (12.06) 11.07 (11.64) 7.49 (15.56) 24.98 (23.37) 17.21 (18.56)
percentage of shrubland 0.93 (1.79) 12.52 (14.14) 14.26 (17) 4.26 (5.4) 16.68 (15.7) 21.58 (29.72)
percentage of water area 0.14 (0.24) 0.34 (0.85) 2.09 (2.93) 0.01 (0.04) 0.33 (1.54) 1.6 (2.75)
pop dens 5.89 (6.08) 0.48 (0.38) 0.29 (0.15) 0.81 (0.73) 0.21 (0.18) 0.37 (0.29)
poverty ratio 21.64 (8.48) 57.11 (18.36) 61.64 (10.65) 43.65 (14.44) 49.7 (11.47) 49 (14.15)
precipitation change -19.64 (11.8) -48.11 (13.48) -34.45 (10.59) -24.74 (9.98) -21.25 (14.73) -20.77 (17.01)
protected area ha 227.59 (503.83) 2702.32 (4145.83) 1942.05 (3934.52) 641.58 (985.34) 4922.72 (5962.29) 3561.21 (9690.65)
rasio elektrifikasi 97.6 (3.64) 68.65 (20.78) 57.76 (23.75) 89.26 (14.9) 81.55 (16.88) 74.97 (19.16)
ratio kec to island 0 (0.01) 0.01 (0.01) 0 (0.01) 0.12 (0.35) 0.07 (0.09) 0.11 (0.28)
ratio rt apl 6.08 (5.98) 0.53 (0.38) 0.43 (0.75) 0.91 (0.89) 0.29 (0.24) 0.43 (0.31)
slope 5.32 (3.02) 11.58 (3.48) 9.84 (3) 14.88 (3.71) 12.29 (3.01) 4.95 (2.45)
tnp2k indv 9576.06 (5667.79) 14805.62 (6827.94) 7127.1 (3752.54) 5551.68 (2115.12) 6957.95 (4316.84) 11195.69 (7331.5)
tnp2k rt 2048 (1242.11) 3018.15 (1340.68) 1714.22 (907.63) 1225.05 (456.93) 1512.46 (884.71) 2345.41 (1378.84)
total faskes1 7 (3.92) 6.43 (3.1) 2.83 (1.63) 3.62 (1.73) 4.82 (2.46) 7.33 (3.91)
total kk 9622.29 (4785.54) 5508.77 (2632.76) 2813.49 (1443.97) 3219.43 (1807.67) 3190.44 (2016.92) 5047.17 (2950.25)
total pasar 2.18 (1.67) 1.53 (1.22) 2.16 (1.41) 1.23 (1.05) 3.08 (2.08) 2.38 (1.69)
total pt 3.24 (4.42) 0.19 (0.68) 0.05 (0.28) 0.17 (0.5) 0.01 (0.11) 0.41 (0.97)
total rs 1.88 (1.8) 0.11 (0.32) 0.02 (0.13) 0.07 (0.27) 0.05 (0.36) 0.19 (0.44)
total sekolah tinggi 9.71 (5.19) 3.94 (3.98) 1.92 (1.36) 1.9 (2.1) 2.35 (2.39) 4.07 (3.25)
wetmonths mean 2.79 (1.18) 4.58 (0.64) 3.55 (0.44) 2.49 (0.85) 3.06 (0.7) 3.04 (0.95)
within airport coverage 7.85 (9.21) 0.63 (1.45) 0 (0.02) 1.11 (1.34) 0.15 (0.33) 1.42 (4.18)
Apa itu rata-rata dan standar deviasi?

Rata-Rata

Rata-rata adalah angka yang sering kita gunakan untuk mengetahui gambaran umum dari sekelompok data. Misalnya, jika rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban cuma 0,24 km, ini menunjukkan bahwa umumnya daerah tersebut dekat dengan jalan raya.

Standar Deviasi

Standar deviasi (SD) memberitahu kita seberapa besar variasi atau perbedaan antar angka dalam sekelompok data. Semakin tinggi SD, makin besar juga variasinya. Misalnya, rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban adalah 0,24 km dengan SD 0,45 km. Ini artinya yang sangat dekat dengan jalan, tetapi juga ada yang jauh—bahkan lebih dari dua kali lipat dari rata-rata.

Nilai standar deviasi (SD) yang besar, seperti contoh diatas, menjadi indikasi bahwa, rata-rata mungkin tidak memberikan gambaran yang mewakili suatu tipologi. Dalam hal ini, standar deviasi memberikan konteks tambahan yang penting untuk memahami sejauh mana data bervariasi.

Kode warna pada tabel dibawah menunjukkan rentang nilai dari variabel yang diberikan untuk masing-masing tipe wilayah. Warna biru gelap menunjukkan nilai yang lebih tinggi, sementara warna yang lebih merah terang menunjukkan nilai yang lebih rendah.

Cluster 1 Sentra Niaga dan Jasa Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5 Cluster 6
annual_temperature_c_change 1.35 1.41 1.42 1.31 1.33 1.35
arable_land_percent 8.12 42.24 34.90 11.93 36.66 54.32
aridity_index 0.77 0.47 0.74 0.77 0.75 0.76
daerah_irigasi_ha 39.76 195.28 78.44 0.00 47.90 383.33
deforestation_area_ha 358.00 969.66 5032.73 1291.15 2482.10 2325.17
distance_daerah_irigasi 12168.85 26505.52 17137.81 21695.13 20595.43 22918.53
distance_to_burned_area 10204.08 17187.88 15902.48 11918.08 5164.40 13440.82
distance_to_coast_line 6819.21 13670.94 14847.71 3986.37 6929.51 6688.34
distance_to_deforestation 3129.91 2074.41 485.60 957.56 1781.55 2192.64
distance_to_forest 1533.24 618.43 943.79 545.56 619.78 1534.66
distance_to_irigation 97109.61 28587.49 164101.59 44127.98 70196.90 87351.23
distance_to_lake 5151.54 11612.42 9514.84 12402.72 11155.16 7381.75
distance_to_plantation 37755.45 31781.51 22823.69 77606.70 66484.25 32331.51
distance_to_plantation_concession 89159.74 105027.18 58217.47 201433.57 147145.60 80718.95
distance_to_port 49678.86 44446.63 80379.61 60504.35 58972.07 71327.78
distance_to_river 4665.26 3865.40 1785.93 8381.95 12096.61 4982.20
distance_to_road 1290.34 978.97 987.37 1179.85 1644.32 1260.44
distance_to_social_forestry_concession 18227.29 18288.50 13326.99 10623.59 12262.78 47103.34
distance_to_water_body 5575.94 7788.91 4346.80 15494.03 13188.93 5375.17
elevasi 232.80 579.90 508.56 412.07 393.91 152.72
embung 2.65 8.51 12.76 0.82 7.62 27.05
erosion_risk 447.46 1611.66 555.79 554.43 1012.65 666.58
idm_2021 0.22 0.58 0.55 0.57 0.60 0.59
indeks_bahaya_banjir 0.09 0.02 0.03 0.00 0.02 0.13
indeks_bahaya_kekeringan 0.72 0.66 0.79 0.64 0.69 0.69
indeks_bahaya_longsor 0.11 0.41 0.39 0.48 0.40 0.10
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 15.41 28.91 15.08 18.00 24.03 21.24
kejadian_banjir_2018_2019 2.35 3.08 0.70 0.78 2.81 3.29
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.06 0.21 0.00 0.05 0.10 0.22
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.53 0.17 0.13 0.03 2.12 0.36
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 0.29 1.30 0.52 0.72 3.08 3.22
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 3.24 3.28 1.79 1.82 1.33 1.26
korban_banjir_2018_2019 0.00 0.08 0.05 0.00 0.10 0.24
korban_banjir_bandang_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00 0.32 0.07
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.00 0.17 0.03 0.07 0.01 0.00
luas_ha 4258.88 15556.87 11976.14 5947.52 21292.19 18916.41
mean_precipitation 1315.93 2084.31 1428.59 1266.18 1350.27 1328.75
mean_temperature 25.51 23.74 24.06 23.95 24.57 25.69
minimarket 7.94 0.66 0.03 0.40 0.12 0.83
ndmi_2020 0.10 0.27 0.18 0.33 0.21 0.09
ndvi_2020 0.53 0.67 0.66 0.66 0.64 0.55
ndwi_2020 -0.54 -0.67 -0.63 -0.73 -0.62 -0.56
pasar_desa 0.06 0.53 1.30 0.42 1.28 6.28
penderita_gizi_buruk_2018 5.18 15.94 17.67 7.05 15.13 29.53
percent_protected_area_ha 5.55 13.39 13.73 9.24 21.83 13.54
percentage_of_agricultural_small_holder 8.12 42.24 34.90 11.93 36.66 54.32
percentage_of_forested_area 6.50 68.02 40.47 28.49 71.99 42.68
percentage_of_plantation 0.01 0.05 0.31 0.00 0.25 0.94
percentage_of_savanna 10.97 9.85 11.07 7.49 24.98 17.21
percentage_of_shrubland 0.93 12.52 14.26 4.26 16.68 21.58
percentage_of_water_area 0.14 0.34 2.09 0.01 0.33 1.60
pop_dens 5.89 0.48 0.29 0.81 0.21 0.37
poverty_ratio 21.64 57.11 61.64 43.65 49.70 49.00
precipitation_change -19.64 -48.11 -34.45 -24.74 -21.25 -20.77
protected_area_ha 227.59 2702.32 1942.05 641.58 4922.72 3561.21
rasio_elektrifikasi 97.60 68.65 57.76 89.26 81.55 74.97
ratio_kec_to_island 0.00 0.01 0.00 0.12 0.07 0.11
ratio_rt_apl 6.08 0.53 0.43 0.91 0.29 0.43
slope 5.32 11.58 9.84 14.88 12.29 4.95
tnp2k_indv 9576.06 14805.62 7127.10 5551.68 6957.95 11195.69
tnp2k_rt 2048.00 3018.15 1714.22 1225.05 1512.46 2345.41
total_faskes1 7.00 6.43 2.83 3.62 4.82 7.33
total_kk 9622.29 5508.77 2813.49 3219.43 3190.44 5047.17
total_pasar 2.18 1.53 2.16 1.23 3.08 2.38
total_pt 3.24 0.19 0.05 0.17 0.01 0.41
total_rs 1.88 0.11 0.02 0.07 0.05 0.19
total_sekolah_tinggi 9.71 3.94 1.92 1.90 2.35 4.07
wetmonths_mean 2.79 4.58 3.55 2.49 3.06 3.04
within_airport_coverage 7.85 0.63 0.00 1.11 0.15 1.42
variable values rank
aridity_index 0.77 (0.06) 1
distance_to_deforestation 3129.91 (2303.01) 1
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 1
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 1
minimarket 7.94 (6.66) 1
ndwi_2020 -0.54 (0.09) 1
pop_dens 5.89 (6.08) 1
precipitation_change -19.64 (11.8) 1
rasio_elektrifikasi 97.6 (3.64) 1
ratio_rt_apl 6.08 (5.98) 1
total_kk 9622.29 (4785.54) 1
total_pt 3.24 (4.42) 1
total_rs 1.88 (1.8) 1
total_sekolah_tinggi 9.71 (5.19) 1
within_airport_coverage 7.85 (9.21) 1
distance_to_forest 1533.24 (893.17) 2
distance_to_irigation 97109.61 (89273.85) 2
distance_to_road 1290.34 (3277.94) 2
indeks_bahaya_banjir 0.09 (0.05) 2
indeks_bahaya_kekeringan 0.72 (0.13) 2
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.53 (1.46) 2
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 3.24 (3.8) 2
mean_temperature 25.51 (1.27) 2
total_faskes1 7 (3.92) 2
annual_temperature_c_change 1.35 (0.07) 3
distance_to_plantation 37755.45 (33542.99) 3
distance_to_social_forestry_concession 18227.29 (11566.02) 3
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0 (0) 3
tnp2k_indv 9576.06 (5667.79) 3
tnp2k_rt 2048 (1242.11) 3
total_pasar 2.18 (1.67) 3
distance_to_coast_line 6819.21 (7824.04) 4
distance_to_plantation_concession 89159.74 (76673.88) 4
distance_to_river 4665.26 (4888.75) 4
distance_to_water_body 5575.94 (6357.01) 4
kejadian_banjir_2018_2019 2.35 (5.62) 4
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.06 (0.24) 4
percentage_of_savanna 10.97 (20.38) 4
daerah_irigasi_ha 39.76 (145.58) 5
distance_to_burned_area 10204.08 (5797.72) 5
distance_to_port 49678.86 (40174.84) 5
elevasi 232.8 (194.8) 5
embung 2.65 (5.22) 5
indeks_bahaya_longsor 0.11 (0.13) 5
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 15.41 (6.33) 5
korban_banjir_2018_2019 0 (0) 5
korban_tanah_longsor_2018_2019 0 (0) 5
mean_precipitation 1315.93 (174.79) 5
ndmi_2020 0.1 (0.09) 5
percentage_of_plantation 0.01 (0.05) 5
percentage_of_water_area 0.14 (0.24) 5
ratio_kec_to_island 0 (0.01) 5
slope 5.32 (3.02) 5
wetmonths_mean 2.79 (1.18) 5
arable_land_percent 8.12 (9) 6
deforestation_area_ha 358 (543.32) 6
distance_daerah_irigasi 12168.85 (10402.91) 6
distance_to_lake 5151.54 (4160.95) 6
erosion_risk 447.46 (483.27) 6
idm_2021 0.22 (0.3) 6
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 0.29 (0.59) 6
luas_ha 4258.88 (5412.64) 6
ndvi_2020 0.53 (0.13) 6
pasar_desa 0.06 (0.24) 6
penderita_gizi_buruk_2018 5.18 (6.29) 6
percent_protected_area_ha 5.55 (12.7) 6
percentage_of_agricultural_small_holder 8.12 (9) 6
percentage_of_forested_area 6.5 (12.18) 6
percentage_of_shrubland 0.93 (1.79) 6
poverty_ratio 21.64 (8.48) 6
protected_area_ha 227.59 (503.83) 6
variable values rank
distance_daerah_irigasi 26505.52 (27683.97) 1
distance_to_burned_area 17187.88 (11929.46) 1
elevasi 579.9 (277.11) 1
erosion_risk 1611.66 (741.1) 1
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 28.91 (9.15) 1
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 3.28 (4.61) 1
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.17 (1.1) 1
mean_precipitation 2084.31 (372.21) 1
ndvi_2020 0.67 (0.27) 1
tnp2k_indv 14805.62 (6827.94) 1
tnp2k_rt 3018.15 (1340.68) 1
wetmonths_mean 4.58 (0.64) 1
annual_temperature_c_change 1.41 (0.02) 2
arable_land_percent 42.24 (24.08) 2
daerah_irigasi_ha 195.28 (537.24) 2
distance_to_coast_line 13670.94 (6647.35) 2
distance_to_lake 11612.42 (6288.25) 2
distance_to_social_forestry_concession 18288.5 (9925.95) 2
indeks_bahaya_longsor 0.41 (0.22) 2
kejadian_banjir_2018_2019 3.08 (7.92) 2
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.21 (1.17) 2
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 2
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 2
ndmi_2020 0.27 (0.11) 2
percentage_of_agricultural_small_holder 42.24 (24.08) 2
percentage_of_forested_area 68.02 (63.67) 2
poverty_ratio 57.11 (18.36) 2
total_kk 5508.77 (2632.76) 2
distance_to_deforestation 2074.41 (1437.2) 3
distance_to_plantation_concession 105027.18 (62291.95) 3
distance_to_water_body 7788.91 (5150.86) 3
embung 8.51 (7.65) 3
idm_2021 0.58 (0.09) 3
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 1.3 (2.39) 3
korban_banjir_2018_2019 0.08 (0.55) 3
luas_ha 15556.87 (9458.36) 3
minimarket 0.66 (2.85) 3
penderita_gizi_buruk_2018 15.94 (19.66) 3
percentage_of_water_area 0.34 (0.85) 3
pop_dens 0.48 (0.38) 3
protected_area_ha 2702.32 (4145.83) 3
ratio_rt_apl 0.53 (0.38) 3
slope 11.58 (3.48) 3
total_faskes1 6.43 (3.1) 3
total_pt 0.19 (0.68) 3
total_rs 0.11 (0.32) 3
total_sekolah_tinggi 3.94 (3.98) 3
indeks_bahaya_banjir 0.02 (0.02) 4
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.17 (0.43) 4
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0 (0) 4
pasar_desa 0.53 (0.95) 4
percent_protected_area_ha 13.39 (13.69) 4
percentage_of_plantation 0.05 (0.32) 4
percentage_of_shrubland 12.52 (14.14) 4
ratio_kec_to_island 0.01 (0.01) 4
within_airport_coverage 0.63 (1.45) 4
deforestation_area_ha 969.66 (1562.14) 5
distance_to_forest 618.43 (907.05) 5
distance_to_plantation 31781.51 (24669.07) 5
distance_to_river 3865.4 (2601.74) 5
indeks_bahaya_kekeringan 0.66 (0.06) 5
ndwi_2020 -0.67 (0.2) 5
percentage_of_savanna 9.85 (12.06) 5
rasio_elektrifikasi 68.65 (20.78) 5
total_pasar 1.53 (1.22) 5
aridity_index 0.47 (0.15) 6
distance_to_irigation 28587.49 (57271.08) 6
distance_to_port 44446.63 (22154.5) 6
distance_to_road 978.97 (481.77) 6
mean_temperature 23.74 (1.41) 6
precipitation_change -48.11 (13.48) 6
variable values rank
annual_temperature_c_change 1.42 (0.02) 1
deforestation_area_ha 5032.73 (2680.26) 1
distance_to_coast_line 14847.71 (8801.76) 1
distance_to_irigation 164101.59 (44165.82) 1
distance_to_port 80379.61 (28598.67) 1
indeks_bahaya_kekeringan 0.79 (0.08) 1
percentage_of_water_area 2.09 (2.93) 1
poverty_ratio 61.64 (10.65) 1
distance_to_burned_area 15902.48 (11016.71) 2
elevasi 508.56 (231.31) 2
embung 12.76 (8.98) 2
mean_precipitation 1428.59 (105.83) 2
ndvi_2020 0.66 (0.1) 2
pasar_desa 1.3 (1.3) 2
penderita_gizi_buruk_2018 17.67 (19.97) 2
percent_protected_area_ha 13.73 (21.41) 2
percentage_of_plantation 0.31 (1.24) 2
wetmonths_mean 3.55 (0.44) 2
daerah_irigasi_ha 78.44 (258.95) 3
distance_to_forest 943.79 (828.65) 3
indeks_bahaya_banjir 0.03 (0.03) 3
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 3
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 3
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.03 (0.25) 3
percentage_of_savanna 11.07 (11.64) 3
percentage_of_shrubland 14.26 (17) 3
arable_land_percent 34.9 (18.83) 4
distance_to_lake 9514.84 (4453.07) 4
distance_to_social_forestry_concession 13326.99 (8843.31) 4
erosion_risk 555.79 (457.59) 4
indeks_bahaya_longsor 0.39 (0.19) 4
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 1.79 (3.56) 4
korban_banjir_2018_2019 0.05 (0.28) 4
luas_ha 11976.14 (7634.75) 4
mean_temperature 24.06 (1.16) 4
ndmi_2020 0.18 (0.06) 4
ndwi_2020 -0.63 (0.09) 4
percentage_of_agricultural_small_holder 34.9 (18.83) 4
percentage_of_forested_area 40.47 (50.21) 4
protected_area_ha 1942.05 (3934.52) 4
ratio_rt_apl 0.43 (0.75) 4
slope 9.84 (3) 4
tnp2k_indv 7127.1 (3752.54) 4
tnp2k_rt 1714.22 (907.63) 4
total_pasar 2.16 (1.41) 4
aridity_index 0.74 (0.05) 5
distance_daerah_irigasi 17137.81 (13430.24) 5
distance_to_road 987.37 (660.49) 5
idm_2021 0.55 (0.04) 5
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.13 (0.49) 5
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 0.52 (1.66) 5
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0 (0) 5
pop_dens 0.29 (0.15) 5
precipitation_change -34.45 (10.59) 5
total_pt 0.05 (0.28) 5
total_sekolah_tinggi 1.92 (1.36) 5
distance_to_deforestation 485.6 (541.33) 6
distance_to_plantation 22823.69 (15831.39) 6
distance_to_plantation_concession 58217.47 (40176.61) 6
distance_to_river 1785.93 (820.63) 6
distance_to_water_body 4346.8 (4092.34) 6
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 15.08 (6.65) 6
kejadian_banjir_2018_2019 0.7 (2.13) 6
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 6
minimarket 0.03 (0.18) 6
rasio_elektrifikasi 57.76 (23.75) 6
ratio_kec_to_island 0 (0.01) 6
total_faskes1 2.83 (1.63) 6
total_kk 2813.49 (1443.97) 6
total_rs 0.02 (0.13) 6
within_airport_coverage 0 (0.02) 6
variable values rank
distance_to_lake 12402.72 (6858.67) 1
distance_to_plantation 77606.7 (34609.3) 1
distance_to_plantation_concession 201433.57 (30264.42) 1
distance_to_water_body 15494.03 (8400.86) 1
indeks_bahaya_longsor 0.48 (0.19) 1
ndmi_2020 0.33 (0.07) 1
ratio_kec_to_island 0.12 (0.35) 1
slope 14.88 (3.71) 1
aridity_index 0.77 (0.05) 2
distance_to_river 8381.95 (7028.44) 2
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.07 (0.47) 2
pop_dens 0.81 (0.73) 2
rasio_elektrifikasi 89.26 (14.9) 2
ratio_rt_apl 0.91 (0.89) 2
distance_daerah_irigasi 21695.13 (10082.84) 3
distance_to_port 60504.35 (34719.05) 3
elevasi 412.07 (185.68) 3
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 1.82 (4.37) 3
ndvi_2020 0.66 (0.29) 3
within_airport_coverage 1.11 (1.34) 3
deforestation_area_ha 1291.15 (1604.8) 4
distance_to_burned_area 11918.08 (6953.1) 4
distance_to_road 1179.85 (760.17) 4
idm_2021 0.57 (0.14) 4
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 18 (8.12) 4
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 0.72 (1.87) 4
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 4
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 4
minimarket 0.4 (1.3) 4
precipitation_change -24.74 (9.98) 4
total_kk 3219.43 (1807.67) 4
total_pt 0.17 (0.5) 4
total_rs 0.07 (0.27) 4
arable_land_percent 11.93 (13.49) 5
distance_to_deforestation 957.56 (1383.54) 5
distance_to_irigation 44127.98 (64290.1) 5
erosion_risk 554.43 (633.44) 5
kejadian_banjir_2018_2019 0.78 (1.85) 5
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.05 (0.32) 5
luas_ha 5947.52 (3507.03) 5
mean_temperature 23.95 (2.08) 5
pasar_desa 0.42 (0.71) 5
penderita_gizi_buruk_2018 7.05 (9.73) 5
percent_protected_area_ha 9.24 (14.45) 5
percentage_of_agricultural_small_holder 11.93 (13.49) 5
percentage_of_forested_area 28.49 (20.13) 5
percentage_of_shrubland 4.26 (5.4) 5
poverty_ratio 43.65 (14.44) 5
protected_area_ha 641.58 (985.34) 5
total_faskes1 3.62 (1.73) 5
annual_temperature_c_change 1.31 (0.12) 6
daerah_irigasi_ha 0 (0) 6
distance_to_coast_line 3986.37 (3065.79) 6
distance_to_forest 545.56 (1334.28) 6
distance_to_social_forestry_concession 10623.59 (7256.16) 6
embung 0.82 (1.39) 6
indeks_bahaya_banjir 0 (0.01) 6
indeks_bahaya_kekeringan 0.64 (0.09) 6
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.03 (0.16) 6
korban_banjir_2018_2019 0 (0) 6
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0 (0) 6
mean_precipitation 1266.18 (179.46) 6
ndwi_2020 -0.73 (0.05) 6
percentage_of_plantation 0 (0.01) 6
percentage_of_savanna 7.49 (15.56) 6
percentage_of_water_area 0.01 (0.04) 6
tnp2k_indv 5551.68 (2115.12) 6
tnp2k_rt 1225.05 (456.93) 6
total_pasar 1.23 (1.05) 6
total_sekolah_tinggi 1.9 (2.1) 6
wetmonths_mean 2.49 (0.85) 6
variable values rank
distance_to_river 12096.61 (11971.81) 1
distance_to_road 1644.32 (693.45) 1
idm_2021 0.6 (0.05) 1
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 2.12 (3.52) 1
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0.32 (2.83) 1
luas_ha 21292.19 (13682.36) 1
percent_protected_area_ha 21.83 (20.15) 1
percentage_of_forested_area 71.99 (51.39) 1
percentage_of_savanna 24.98 (23.37) 1
protected_area_ha 4922.72 (5962.29) 1
total_pasar 3.08 (2.08) 1
deforestation_area_ha 2482.1 (2577.2) 2
distance_to_plantation 66484.25 (37519.25) 2
distance_to_plantation_concession 147145.6 (63498.68) 2
distance_to_water_body 13188.93 (9105.95) 2
erosion_risk 1012.65 (648.43) 2
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 24.03 (11.92) 2
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 3.08 (5.44) 2
korban_banjir_2018_2019 0.1 (0.52) 2
percentage_of_shrubland 16.68 (15.7) 2
slope 12.29 (3.01) 2
arable_land_percent 36.66 (30.42) 3
distance_to_coast_line 6929.51 (5984.89) 3
distance_to_lake 11155.16 (6176.85) 3
indeks_bahaya_kekeringan 0.69 (0.12) 3
indeks_bahaya_longsor 0.4 (0.16) 3
kejadian_banjir_2018_2019 2.81 (4.72) 3
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.1 (0.62) 3
mean_precipitation 1350.27 (205.74) 3
mean_temperature 24.57 (1.05) 3
ndmi_2020 0.21 (0.12) 3
ndwi_2020 -0.62 (0.19) 3
pasar_desa 1.28 (1.34) 3
percentage_of_agricultural_small_holder 36.66 (30.42) 3
percentage_of_plantation 0.25 (1.43) 3
poverty_ratio 49.7 (11.47) 3
precipitation_change -21.25 (14.73) 3
rasio_elektrifikasi 81.55 (16.88) 3
ratio_kec_to_island 0.07 (0.09) 3
wetmonths_mean 3.06 (0.7) 3
aridity_index 0.75 (0.07) 4
daerah_irigasi_ha 47.9 (149.67) 4
distance_daerah_irigasi 20595.43 (15076.06) 4
distance_to_deforestation 1781.55 (2470.64) 4
distance_to_forest 619.78 (444.92) 4
distance_to_irigation 70196.9 (74274.42) 4
distance_to_port 58972.07 (37963.94) 4
elevasi 393.91 (187.07) 4
embung 7.62 (8.12) 4
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.01 (0.11) 4
ndvi_2020 0.64 (0.22) 4
penderita_gizi_buruk_2018 15.13 (17.84) 4
percentage_of_water_area 0.33 (1.54) 4
total_faskes1 4.82 (2.46) 4
total_sekolah_tinggi 2.35 (2.39) 4
annual_temperature_c_change 1.33 (0.08) 5
distance_to_social_forestry_concession 12262.78 (8771.83) 5
indeks_bahaya_banjir 0.02 (0.02) 5
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 1.33 (2.4) 5
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 5
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 5
minimarket 0.12 (0.81) 5
tnp2k_indv 6957.95 (4316.84) 5
tnp2k_rt 1512.46 (884.71) 5
total_kk 3190.44 (2016.92) 5
total_rs 0.05 (0.36) 5
within_airport_coverage 0.15 (0.33) 5
distance_to_burned_area 5164.4 (3639.23) 6
pop_dens 0.21 (0.18) 6
ratio_rt_apl 0.29 (0.24) 6
total_pt 0.01 (0.11) 6
variable values rank
arable_land_percent 54.32 (30.82) 1
daerah_irigasi_ha 383.33 (805.42) 1
distance_to_forest 1534.66 (1592.01) 1
distance_to_social_forestry_concession 47103.34 (44349.72) 1
embung 27.05 (26.78) 1
indeks_bahaya_banjir 0.13 (0.1) 1
kejadian_banjir_2018_2019 3.29 (4.88) 1
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.22 (0.84) 1
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 3.22 (5.44) 1
korban_banjir_2018_2019 0.24 (0.73) 1
mean_temperature 25.69 (0.81) 1
pasar_desa 6.28 (13.11) 1
penderita_gizi_buruk_2018 29.53 (37.32) 1
percentage_of_agricultural_small_holder 54.32 (30.82) 1
percentage_of_plantation 0.94 (2.58) 1
percentage_of_shrubland 21.58 (29.72) 1
total_faskes1 7.33 (3.91) 1
distance_daerah_irigasi 22918.53 (30486.92) 2
distance_to_deforestation 2192.64 (2041.47) 2
distance_to_port 71327.78 (44396.08) 2
idm_2021 0.59 (0.04) 2
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0.07 (0.53) 2
luas_ha 18916.41 (15228.69) 2
minimarket 0.83 (2.39) 2
ndwi_2020 -0.56 (0.12) 2
percentage_of_savanna 17.21 (18.56) 2
percentage_of_water_area 1.6 (2.75) 2
precipitation_change -20.77 (17.01) 2
protected_area_ha 3561.21 (9690.65) 2
ratio_kec_to_island 0.11 (0.28) 2
tnp2k_indv 11195.69 (7331.5) 2
tnp2k_rt 2345.41 (1378.84) 2
total_pasar 2.38 (1.69) 2
total_pt 0.41 (0.97) 2
total_rs 0.19 (0.44) 2
total_sekolah_tinggi 4.07 (3.25) 2
within_airport_coverage 1.42 (4.18) 2
aridity_index 0.76 (0.08) 3
deforestation_area_ha 2325.17 (3149.52) 3
distance_to_burned_area 13440.82 (12871.96) 3
distance_to_irigation 87351.23 (77778.01) 3
distance_to_river 4982.2 (4424.21) 3
distance_to_road 1260.44 (2332.3) 3
erosion_risk 666.58 (360.21) 3
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 21.24 (8.76) 3
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.36 (1.12) 3
percent_protected_area_ha 13.54 (16.14) 3
percentage_of_forested_area 42.68 (51.6) 3
total_kk 5047.17 (2950.25) 3
annual_temperature_c_change 1.35 (0.07) 4
distance_to_plantation 32331.51 (39316.4) 4
indeks_bahaya_kekeringan 0.69 (0.1) 4
mean_precipitation 1328.75 (229.61) 4
pop_dens 0.37 (0.29) 4
poverty_ratio 49 (14.15) 4
rasio_elektrifikasi 74.97 (19.16) 4
wetmonths_mean 3.04 (0.95) 4
distance_to_coast_line 6688.34 (6418.51) 5
distance_to_lake 7381.75 (4488.3) 5
distance_to_plantation_concession 80718.95 (63181.04) 5
distance_to_water_body 5375.17 (4934.92) 5
ndvi_2020 0.55 (0.13) 5
ratio_rt_apl 0.43 (0.31) 5
elevasi 152.72 (115.72) 6
indeks_bahaya_longsor 0.1 (0.11) 6
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 1.26 (3.51) 6
korban_banjir_bandang_2018_2019 0 (0) 6
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0 (0) 6
korban_tanah_longsor_2018_2019 0 (0) 6
ndmi_2020 0.09 (0.08) 6
slope 4.95 (2.45) 6